_

_

Sabtu, 17 Januari 2015

AI (Kecerdasan Buatan)

Kepandaian buatan (AI), diartikan secara luas sebagai cabang ilmu komputer yang berhubungan dengan perkembangan komputer (perangkat keras) dan program-program komputer (perangkat lunak) yang mampu meniru fungsi kognisi manusia. Ketika mendiskusikan tentang AI, biasanya berkaitan erat dengan psikologi kognitif dan ilmu neurologi, Soslo (2007).
AI dengan psikologi kognitif memiliki semacam hubungan simbiosis, masing-masing bagian mendapat keuntungan daei peningkatan bagian lainnya. Peningkatan pada cara-cara untuk meniru secara persis persepsi manusia, ingatan, bahasa, dan pikiran, tergantung pada pengertian bahwa proses ini dicapai oleh manusia. Meskipun pengembangan AI di dedikasikan untuk mengembangkan mesin yang bertindak seakan mereka pandai, kebanyakan dirancang tanpa bertujuan untuk meniru proses kognitif manusia.
Sejak konferensi Darmouth, AI berkembang sangat pesat. AI dalam beraneka bentuknya, saat ini telah menyentuh kehidupan sehari-hari kebanyakan manusia di dunia, serta dimanfaatkan dalam beraneka penelitian penting yang dilakukan ribuan ilmuan. Jenis komputer yang paling umum digunakan saat ini terpola berdasarkan rancangan ahli matematika Hungaria, John Von Neumann pada tahin 1958 yang berimigrasi dari Amerika Serikat pada tahun 1930.
Pada masa awal teknologi komputer, bahkan ilmuwan AI memiliki impian luar biasa tentang robot dan mesin berpikir. Sebuah tulisan yang sangat berpengaruh ditulis pada awal tahun 1940an oleh seorang psikiater asal Chicago, W.S. McCulloch, serta mahasiswanya W. Pitts. Tidak lama setelah tulisan McCulloch dan Pitts, Von Neumann melihat hubungan antara sikap logis neuron ketika berinteraksi dengan kinerja komputer digital. Mengikut jejak Von Neumann, F. Rosenblatt mengambil alih proyek perakitan komputer yang meniru fungsi dan struktur otak manusia.
Generasi komputer atau ilmuan kognisi saat ini lebih optimis dengan kemampuan sebuah mesin untuk memancing fungsi neuron. Salah satu perubahan terbaru dari persepton adalah konsepnya. Kebanyakan topic berhubungan dengan masalah arsitektur komputer dan otak. Bagaimanapun juga komputer tetap tidak bisa menampilkan fungsi seperti manusia; komputer dan otak tidak identik. Pada beberapa hal, komputer melakukan sesuatu lebih baik dari otak, tapi pada beberapa hal lain komputer lebih buruk dari otak.
Riset psikologi selama lebih dari satu abad, terutama melalui riset psikologi kognitif beberapa abad lalu. Seperti yang diketahui bahwa mesin berpikir manusia adalah otak. Otak sebagai mesin ini berbeda secara fundamental dibandingkan dengan komputer Von Neumann yang sekarang biasa digunakan. Mungkin AI akan berperan lebih jauh jika komputer lebih menyerupai otak. Beberapa program komputer bekerja lebih efektif daripada pikiran manusia, dan kebanyakan sangat pintar menirukan hal-hal nyata meski masih sedikit janggal. Komputer mampu memecahkan beberapa masalah, sepertu sebuah soal matematika yang mendetil, lebih cepat dan lebih akurat dari manusia.
Kecepatan proses komputer berbasis silikon dapat dilampau hanya dengan nanodetik, sedangkan manusia dapat hingga milidetik sampai beberapa detik. Kapasitas komputer berbasis silikon sangat besar, untuk informasi berkode digital, sedangkan otak berbasis karbon yang dimiliki manusia dapat menyimpan sangat besar, untuk informasi visual dan linguistik. Kemampuan belajar manusia adalah konseptual, berbeda hal dengn komputer yang belajar sesuai aturan yang ditetapkan.
Para psikolog biasanya menganggap bahasa sebagai manifestasi utama dalam proses kognitif. Bahasa, lebih dari kategori apapun dalam variable respons manusia, mampu merefleksikan pikiran, persepsi, ingatan, pemecahan masalah, kecerdasan dan pembelajaran. Bahkan, karena pentingnya dalam prinsip dasar psikologi, bahasa menjadi perhatian utama para ilmuan AI. Antusiasme para pemain awal AI langsung menanggapi tantangan yang muncul dari Tes Turing dan kemudian menuliskan program yang dirancang untuk menanggapi permintaan bahasa yang tidak bisa dipisahkan dari respons manusia, tiga program komputer yang dikembangkan antara lain:
Eliza
Salah satu program komputer pertama yang mampu berkomunikasi, ditulis oleh Joseph Weizenbaum (1966). Pada satu program yang spesifik, bernama DOCTOR, ELIZA mengambil peran seperti seorang psikiater. Respons dari komputer cenderung stereotype, misalnya dia deprogram untuk merespons beberapa kunci kalimay dengan respons yang hanyalah merupakan transformasi dari kalimat aslinya.. Kapasitas manusia dalam hal pengetahuan perasaan, kecenderungan, dinamika kelompok, dan seterusnya, terbentuk menjadi apa yang mau tidak mau kita ebut pengertian. Eliza kekurangan hal itu.
Parry
Colby, Hilf, Weber dan Kraemer (1972) mensimulasikan seorang pasien dan menyebut program ini Parry, karena ia mesimulasikan seorang pasien paranoid. Mereka memilih seorang paranoid sebagai subyek karena beberapa teori menyebutkan bahwa proses dan sistem paranoia memang ada, perbedaan respons psikotis dan respons normalnya cukup hebat. Colby dan para rekan-rekan penelitinya mengarahkan komputer tersebut untuk melakukan tes Turing, dengan meminta sekelompok psikiater untuk mewawancarai Parry menggunakan pesan yang disampaikan dalam bentuk ketikan.
Meskipun Colby dan rekan-rekannya berhasil memprogram komputer yang mampu merespons serupa dengan respons seorang pasien paranoid, di mana program ini juga lulus Tes Turing, tetapi program ini masih jauh dari konsep model pemahaman lengkap dengan produksi bahasa.
NETtalk
Program ini jenisnya cukup berbeda, berdasarkan pada jarring-jaring neuron, sehingga dinamakan NETtalk. Program ini dikembangkan oleh Sejnowski di sekolah medis Harvard dan Rosenberg di Universitas Princeton. Model simulasi jarring neuron terdiri atas beberapa ratus unit dan ribuan koneksi. NETtalk dapat membaca keras-keras dengan cara mengkonversi tulisan menjadi fonem-fonem, unit dasar dari suara sebuah bahasa.
Pada tahap-tahap awal AI, komputer disangka akan menjadi asisten yang luar biasa dalam penerjemahan bahasa. Cukup dengan menginstal bank memori komputer dengan kata-kata dari kedua bahasa dalam jumlah yang seimbang (contoh: keseimbangan antara bahasa inggris dan Norwegia misalnya: necklace=halsband, cloth=kloer, pocketbook=lommebook, pink=lyserod, dst); memasukkan bahasa yang satu dan mengeluarkannya dalam bahasa yang lain. Bagaimanapun juga, bakan ketika penterjemahan satu persatu dilakukan dalam konteks informasi sintaktis, hasilnya terkadang menjadi aneh.

Contoh kasus:
Konsep “kepercayaan”:
Aku pergi sampai jam 2 pagi kemarin.
Istriku benar-benar memberikannya padaku.
Cukup adil untuk menyimpulkan bahwa kebanyakan orang memahami bahwa apa yang sang istri berikan ke suaminya bukanlah kasih sayang. Tidak masalah jika pemahaman kita salah total. (Misalnya, sang suami mungkin sudah bekerja cukup lama dalam laboratoriumnya, dan baru saja menemukan penyembuh kanker yang akan membuatnya tenar dan membawa keberuntungan pada keluarganya, atau sang suami mungkin sudah pulang terlalu awal).
Kita sedang membicarakan apa yang dipahami kebanyakan orang tentang apa yang dipahami kebanyakan orang tentang cerita pendek tadi dan yang tidak dipahami kebanyakan program komputer (intinya ada pada perbedaan makna struktur yang tampak dengan makna struktur yang lebih dalam). Sebuah program yang mampu memahami cerita ini tidak hanya membutuhkan memori idiom yang sangat besar (bagaimana lagi dia bisa memahami yang dimaksud dengan “memberikannya padaku”) tetapi juga beberapa pemahaman atas datang dan perginya sang suami, kepercayaan istrinya, serta sikapnya pada beberapa hal.

DAFTAR PUSTAKA

Soslo, R., L., Maclin, O., H., Maclin., M., K. (2007). Psikologi Kognitif (8th Ed.). Jsakarta: Erlangga

Tidak ada komentar: